Search This Blog

Tersiram

Ketika tidak sengaja menyiram orang saat menyiram tanaman, lantaran tidak menyadari keberadaan orang tersebut, bagaimana perasaan yang tidak sengaja menyiram?

Lalu, bagaimana dengan perasaan orang yang tersiram?

***

Aku, sebagai yang tersiram, (awalnya) merasa malu. 

Tapi, setelah mereka-reka ulang lagi, aku sadar, tidak seharusnya aku malu. 

Lantas, kenapa tadinya aku malu?

Selain karena badan (dan buku tulisku) terguyur air, aku malu, karena merasa sudah salah tempat. Aku merasa, aku yang salah karena ada di tempat itu, pada waktu itu. Jadi aku spontan berpikir, kalau aku yang seharusnya malu. 

Padahal, setelah dipikirkan lagi, aku jelas tidak salah. Itu tempat umum, bukan rumah penduduk. 

Aku tidak salah duduk di situ, pada waktu itu. 

Aku tidak jadi merasa malu. 

***

Tapi, bagaimana dengan yang tidak sengaja menyiramku? Apakah saat itu dia juga merasa malu?

Tentu. 

Meski berusaha keras menyembunyikannya, jelas sekali dia terlihat malu. Tepat setelah menyadari keberadaanku di titik penyiraman, dia kaget, dan segera minta maaf sambil berkali-kali tertawa canggung. 

Yang tidak sengaja menyiram, sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena dia memang tidak melihatku. Tapi juga salah, sebab dia kurang memperhatikan sebelum menyiram, padahal itu tempat umum, yang sangat mungkin akan ada kehadiran orang lain di situ, saat itu. 

Baik. Permintaan maaf diterima.  

Sayangnya, permintaan maaf itu dilapisi oleh pembelaan diri berjubah basa-basi, yang dipakai demi melindungi diri dari dinginnya hawa malu. 

Oke. Kuakui itu jubah perlindungan yang apik. Kalau kugambarkan, kira-kira ada dua lapis kain di jubahnya:

1. basa-basi yang menyiratkan bahwa aku yang salah karena tidak bilang padanya kalau aku sedang duduk di situ, 

2. basa-basi yang menyiratkan bahwa aku yang salah karena duduk di situ pada waktu itu. 

***

Di dunia ini, masih banyak ditemui orang yang memilih menggunakan jubah ini untuk melindungi diri. 

Dinginnya hawa malu memang tak terelakkan. Perasaan takut disalahkan memang tidak nyaman. Tidak heran jika banyak yang memilih menggunakannya saat hawa itu mulai menerpa. 

Padahal, dinginnya hawa malu itu juga bisa digantikan oleh hangatnya rangkulan sesama manusia, yang dapat diwujudkan dengan keberanian untuk mengakui kesalahan dengan tulus. 

Dengan berani melepaskan jubah defensif, memeluk perasaan malu, dan mengakui bahwa kita juga bisa berbuat salah, kita memberi kesempatan bagi diri kita untuk bertumbuh, membangun kehangatan dan saling pengertian, serta menciptakan kedekatan yang lebih tulus dengan sesama, 

yang, tentu, lebih hangat, 

alih-alih berlindung di balik jubah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Before you leave, I want you to know that I'd love to read your thoughts about this post. ( •̀ - •́ )
On top of everything, thanks for visiting and cya (..◜ᴗ◝..)