Search This Blog

Keuntungan Gagal

Ada satu hal yang ga didapat siswa dengan track record tanpa gagal yang langsung lulus dalam sekali percobaan ujian, yang mana hanya didapat siswa dengan track record gagal bertubi-tubi sebelum pada akhirnya lulus: perhatian lebih dari pendidiknya secara eksklusif

Menjadi siswa cemerlang dengan nilai bagus tanpa gagal atas usahanya sendiri, memang keren. Tapi, menjadi siswa tersebut, berarti hanya sampai di situ saja dalam ruang lingkup kurikulum yang ditawarkan. 

Menjadi siswa tersebut, bersama dengan track record cemerlangnya, harus menempuh jalan sendiri untuk mengeksplor lebih jauh lagi di luar yang ditawarkan, tanpa bimbingan eksklusif dari pendidiknya, yang, pun kalaupun ada, tidak seeksklusif yang diberikan kepada siswa dengan track record gagal bertubi-tubi. 

Sebaliknya, menjadi siswa yang sering berlumur kegagalan, memang terlihat kurang keren. Tapi, menjadi siswa tersebut, berarti mendapat perhatian dan bimbingan khusus dari pendidiknya secara eksklusif. 

Menjadi siswa yang demikian, berarti mendapat fasilitas belajar dan bimbingan yang lebih dari yang ditawarkan, bahkan boleh jadi lebih dari biaya pendidikan yang sudah dibayar siswa yang bersangkutan. Dan artinya apa, siswa dengan track record gagal, sebenarnya untung, lebih untung dari siswa cemerlang. Lebih untung dalam konteks pengalaman belajar yang intensif. 

Tapi tenang, wahai para siswa cemerlang. 

Ada yang lebih rugi dibandingkan kalian. Yakni, siswa cemerlang yang mendapat nilai bagus tanpa usaha sendiri, melainkan melalui jalur instan yang meruntuhkan proses belajar itu sendiri. Sudahlah tidak belajar, tidak mendapat perhatian lebih dari pendidik pula. Sebab apa? Sebab nilainya sudah bagus sehingga dianggap ga perlu bimbingan lebih lagi. 

Kurang rugi apa mereka?