7 Desember 2025
Aku lagi belajar komunikasi efektif.
Belajar, gimana caranya biar apa yang mau kusampaikan
bisa benar-benar tersampaikan ke pendengar.
Di hari ultahku kemarin,
aku beliin aku buku.
Buku Talk Like TED :D
Harapannya,
di bertambahnya usiaku ini,
aku jadi bisa lebih mahir menyampaikan ide melalui lisan,
bukan hanya melalui tulisan.
***
Barusan aku nyoba terapin apa yang dibilang bukunya:
latihan ngomong, rekam videonya, amati.
Dan ini first take ku, tanpa mikirin script, tanpa plan,
semua kucoba sampaikan langsung dari pikiran.
Hasilnya?
Lebih banyak mikirnya dulu daripada menyampaikan idenya :)))
Jadi?
Memang perlu rencanain dulu.
Memang perlu latihan dulu.
Terima kenyataan
kalau diri masih belum punya kapasitas untuk ngomong spontan dengan luwesnya.
Jadi, pikirkan dulu sering-sering yang mau disampaikan sampai matang.
Pikirkan kerangkanya sampai matang.
Lalu latih, terapkan secara lisan!
Dan bandingkan dengan sebelum memikirkan semua itu.
***
Belajar dulu dari kerangka,
belajar dulu bikin script,
bukan berarti ga otentik.
bukan berarti ga tulus.
Justru itu cara,
untuk bisa benar-benar terhubung dengan pendengar,
karena dengan persiapan yang matang,
alih-alih kebanyakan mikir sendiri dulu pas lagi ngomong,
diri jadi bisa lebih fokus ke hal yang lebih penting:
terhubung sepenuhnya dengan pendengar.
***
16 Desember 2025
Kalau yang kemarin latihan ngomongnya itu bahas tentang topik personal, kali ini aku nyoba topik yang kurasa udah di luar kepala karena memang disentuh setiap hari. Tapi masih belum pakai rencanain script.
Aku mau coba, kalau jelasin sesuatu yang udah familiar, aku bisa lancar ngomong tanpa harus rencanain script dulu ga?
Dan setelah kudengar, setelah kuamati, kesan yang kudapat: boring.
Ini potongan rekamannya:
Rasanya malah kayak lecture yang stagnan di kelas.
Dan lagi-lagi, aku masih banyak mikirnya, mikir nyari kata-kata yang pas buat jelasin.
Ternyata walau topiknya udah di luar kepala sekalipun, tetap perlu kurencanakan dulu. Tetap perlu direncanakan, gimana caranya biar penjelasan yang diberi itu bisa bikin suasana hidup, bisa bikin pendengar engage.
Jadi, oke, aku ga penasaran lagi.
Next time coba yang beneran pakai rencanain script dulu.
***
21 Desember 2025
Ga usah bikin script buat latihan ngomong. Kelamaan. Kapan latihannya.
Jadi, kali ini aku pakai tulisan yang udah kutulis dari masa lalu sebagai script buat latihan.
Kucomot dari tulisan ini.
Dan ini potongan rekamannya:
Karena momen yang kutulis di tulisan itu masih membekas, di latihan kali ini aku ga banyak mikir dulu buat ngomong. Lumayan juga buat latihan.
Next bakal coba lagi dari tulisan lampau lainnya.
***
25 Desember 2025
Hari ini latihan lagi. Pakai cerita yang sama kayak yang sebelumnya.
Aku mau liat, kalau cerita yang sama dipakai untuk latihan selama beberapa kali, nantinya gimana di akhir. Apakah ada perbedaan dalam menyampaikan, atau, ga beda-beda jauh. Dan kalau ada, apa perbedaannya.
***
28 Desember 2025
Hari ini masih pakai cerita yang sama.
Kali ini part yang kurasa ga perlu diceritain kupangkas. Tapi kesannya jadi lebih ke informatif alih-alih storytelling.
Dari waktu ke waktu, semakin banyak latihan, lama-lama jadi terlihat mana yang perlu dan mana yang kurang dsb.
***
30 Desember 2025
Masih dengan cerita yang sama, tapi hari ini aku coba nambahin pelengkap cerita buat melengkapi apa yang udah pernah kubicarakan di latihan-latihan sebelumnya.
Percobaan 1:
Percobaan 2:
***
1 Januari 2026
Setelah mengamati semua rekaman latihan yang sudah kulakukan, aku kesadar, kalau, sebenarnya aku ga kurang di aspek kepercayaan diri.
Di rekaman paling pertama, walau di awalnya aku memang banyak mikirnya dulu dan sempet keliatan ada ga nyamannya, tapi pas di pertengahan, bicaraku penuh tekad dan keyakinan tanpa keraguan setitikpun. Tidak ada indikasi keraguan diri. Tidak ada indikasi malu-malu. Tidak ada indikasi grogi.
Bagaimana dengan indikator ketidaknyamanan di awal rekaman? Kalau itu, lebih karena topik yang dibahas memang belum sering kupikirkan, dan, saat itu topiknya masih rada kurang friendly buatku untuk dibicarakan: kegagalan.
Jadi, kesimpulan pertamanya adalah: kepercayaan diri bukan aspek utama yang masih kurang di diriku.
***
Kurangnya di mana? Kurangnya di, aku masih bertele-tele dan belum to the point selama menyampaikan cerita tercongkel kucing. Ada bagian yang sebenarnya ga perlu kusampaikan. Dan ada juga bagian yang seharusnya kusampaikan, tapi belum tersampaikan.
Bertele-tele dan belum to the point, karena, di semua rekaman sebelumnya, aku ga mikirin tujuan spesifik atau kata kunci dari cerita yang kusampaikan. Walaupun aku udah pegang cerita utamanya: tercongkel kucing, tapi, aku belum benar-benar memikirkan, apa sih yang sebenarnya mau kusampaikan ke pendengar?
Aku belum memikirkan, apa sih yang harus sampai ke pendengar setelah aku selesai berbicara? Apa sih yang harus dimengerti pendengar? Apa sih kata kunci yang harus didapat pendengar?
Dan buat tahu gap-gap seperti itu, memang butuh jam terbang. Butuh jam terbang yang banyak sampai pada akhirnya aku tau gimana caranya aku menyampaikannya dengan rapi, informatif, memikat, dan efektif.
Jadi, kesimpulan keduanya adalah: aku belum banyak jam terbang, dan aku belum memikirkan tujuan dan kata kunci yang spesifik.
***
12 Januari 2026
Sebelum menyampaikan, kali ini aku coba pegang pesan inti yang harus disampaikan: hati-hati kalau ninggalin laptop di lingkungan yang ada kucingnya.
Lumayan. Jadi lebih terarah. Masih rada bertele-tele, tapi udah lumayan.
***
14 Januari 2026
Di latihan kali ini, aku coba selipkan pathos dari teori ethos pathos logos nya aristoteles.
Menjelaskannya sambil memikirkan pendengar, ngga hanya fokus menjelaskan narasi seperti biasanya di rekaman-rekaman sebelumnya.
***
tbc