Search This Blog

Baca Buku Kepepet

Bukan dalam hitungan hari, minggu,
ataupun bulan lagi,
melainkan,
sudah bertahun-tahun buku di rak itu.. 

..tidak terbaca

Berdebu, begitu saja. 
Terlupakan, begitu saja. 

Tambah lagi,
minat diri terhadap jenis bacaan di buku itu,
sudah pupus,
termakan oleh waktu. 

Dengan kata lain, 

bukan hanya berdebu. 

Buku-buku ini,
bahkan sudah tidak terlalu relevan lagi, 
untuk diri ini,
di masa ini. 

***

Tapi mau sudah setidakrelevan apapun buku dengan diri, pasti masih ada satu-dua hal yang bisa dipetik dari sana. Jadi, keinginan untuk membaca buku-buku itu tetap ada. Setidaknya, diskimming pun jadi, yang penting sudah dilihat isinya. 

Hanya, yang jadi masalah, kapan bacanya? 

Lebih tepatnya, 

kapan diri ini benar-benar bergerak membuka buku itu, membacanya? Apalagi, bukunya sudah tidak relevan lagi. Apalagi lagi, masih ada yang lebih prioritas untuk dilakukan. 

***

Sepertinya harus karena kepepet dulu, baru kebaca bukunya. Cara kepepetnya? Yang terpikirkan, dengan cara memajangnya di online marketplace, menjualnya ke orang. Segera

Kebetulan, akhir-akhir ini aku punya misi pengosongan kamar, biar ngga sempit. Barang-barang yang sudah tidak diperlukan, rencananya akan dipindahtangankan semua. 

Tidak disangka, 5 buku itu, semua buku yang baru kupajang di etalase toko online, langsung dipesan pengguna lain hanya dalam waktu < 1 jam. 

Kaget. Kukira masih punya waktu sebulan, atau minimal seminggu untuk baca semua buku itu, sembari menunggu ada yang menanyakan, syukur-syukur beli. 

Tidak tahunya, aku langsung dapat pembeli serius nan gercep satsetsatset (bisa dilihat dari ulasan pengguna lain). 

Baik. Aku senang ada yang langsung mau beli. Tapi, tiba-tiba perasaan tidak rela itu muncul. Aih.. belum baca sama sekali, masa sudah harus dikirim? 

Jadilah, dengan sangat terpaksa kukatakan kepada pembeli gercep ini, bahwa, bukunya baru bisa dikirim lusa. Aku juga bilang padanya, kalau aku mau maraton dulu. 

Maraton Buku
Maraton Buku | Photo owned by Axel Bueckert

Saat itu, hati ini sudah merelakan, ah, gapapalah kalau misalkan pembeli ini tidak jadi beli. Toh, rezeki pasti akan ada. Toh, masih banyak pembeli lainnya yang pasti berminat. 

Tapi syukurnya, pembeli ini menyetujuinya, dan di akhir memang benar-benar beli. 

Alhasil, dalam maraton 2 hari belakangan, 2 buku berhasil kuselesaikan, 2 buku memang sudah pernah dibaca dulu-dulu sekali, dan 1 buku sisanya hanya kubaca loncat-loncat. 

Benar. Maraton ini, pada akhirnya tidak full berhasil. Tapi, tidak masalah. Yang terpenting, bukunya terbaca juga. 

Lagipula, bukunya sudah tidak relevan lagi, kecuali kalau dibaca 5 tahun yang lalu. Lagian juga, salah sendiri nunda-nunda bacanya. 

Walau maratonnya tidak full 100% berhasil, tidak ada penyesalan sama sekali ketika melepasnya. Sebab, masih banyak buku lainnya yang lebih bermakna untuk dibaca saat ini, dan juga, urgensinya memang untuk mengosongkan kamar. 

Toh, buku yang dijual ini termasuk buku yang bisa ditemui di perpustakaan. Jadi kapanpun mau baca lagi, bisa pinjam saja di perpus. 

***

Poin penting yang bisa dipetik, kalau tiba-tiba dapat hidayah ingin baca buku yang udah lama kebeli tapi ga dibaca-baca, plus ada keinginan jual bukunya, boleh dicoba tuh pajang bukunya di etalase marketplace. 

Dengan adanya pembeli yang nanya-nanya bukunya, boleh jadi semangat baca bukunya jadi muncul. Takut keburu dibeli orang, soalnya. 

Hanya, kalau memang ternyata ada yang ingin langsung beli, hati harus sudah benar-benar siap melepasnya. Jangan masukin ke etalase kalau sekiranya belum rela menjualnya. Jangan

Yang jadi pertanyaan sekarang, gimana dengan e-book berdebu ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Before you leave, I want you to know that I'd love to read your thoughts about this post. ( •̀ - •́ )
On top of everything, thanks for visiting and cya (..◜ᴗ◝..)