Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label ga lagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ga lagi. Tampilkan semua postingan

1 Menit Bertamu

Dulu,
kupikir,
ketika bertamu itu, 

sebaiknya jangan cepat-cepat pulang.

Tapi sekarang,
aku jadi tau,
kalau bertamu 

dan langsung pulang 1 menit kemudian itu, 

ternyata bisa sangat
sangat,  
sangat-sangat 

membantu tuan rumahnya. 

***

Resah. 

Itu yang kurasakan, 
setiap melihat wajah mamaku, 
yang sudah bak mayat hidup, 

tanda sangat, sangat butuh istirahat. 

Geram. 

Itu yang kurasakan, 
setelah menemani tamu
yang entah sudah keberapa, 

tapi tak kunjung pulang, 

bahkan setelah jarum pendek jam 
telah berputar melewati 2 angka. 

***

Ke depannya, 
apabila bertamu membesuk orang sakit, 

aku tidak akan berlama-lama. 

Karena, 
dengan begitu, 

tidak ada orang yang dirugikan. 

Si yang sakit senang dikunjungi. 
Si yang merawat senang waktunya bisa dipakai, 

untuk istirahat dan merawat diri. 

Rabun Kaget

Perkenalkan.

Ini penutup mata baruku, 
bersama gelnya.

Baru kudapatkan
sekitar satu minggu lalu, 

dan baru kucoba 
pas tidur siang barusan.

Memang berat dan ketat, 
tapi rasanya enak. 

Gelap.
Dingin.

TAPI!!!

Bangun-bangun 
mataku jadi langsung rabun banget!!

***

Horor.

Bahkan tulisan di layar hp pun, 
sama sekali ga bisa kubaca, 
pas perdana baru bangun tadi. 

Syukurnya, 
lama-kelamaan rabunnya memudar. 

Dan syukurnya juga, 
aku udah mulai bisa baca lagi, 
dan ngetik di sini. 

Tapi rabunnya belum hilang 100%.

Baca tulisan di kertas biasa pun
masih nge-blur juga.

***

Jadi rabun kagetnya itu gini. 

Bangun-bangun, 
mataku ga bisa baca tulisan apapun, 
baik dekat, maupun jauh.

Mataku minus. 

Walau udah coba pakai kacamata tadi,
tulisannya tetap rabun!

Perlahan, memang 
tulisan mulai bisa kebaca.

Tapi kalau berkedip lagi, 
semua langsung buyar dan tambah blur. 

Rasanya mau nangis.

Gimana kalau seandainya 
aku ga bisa baca lagi selamanya?

Kiamat.

***

Aku belum tau, 
sampai kapan mataku pulih lagi. 

Masih observasi mandiri.

Sekaligus jadi parno.
Buat pakai lagi penutup matanya.

Mungkin masalahnya ada di gel, 
jadi memberatkan mata.

Aku belum tau. 

***

UPDATE:

Sekitar 5 jam setelahnya, akhirnya mataku normal lagi. 

Duh. Ga lagi. 

(tapi nanti tetap mau coba penutup matanya tanpa pakai gel)

Samyang

Samyang itu..
PEDES BANGET
ngelebihin gacoan.

🌶️ 🌶️ 🌶️

Sangking pedesnya, 
sampe batuk-batuk.

Soalnya,
kebetulan juga 
tenggorokan 
memang lagi gatal.

Jadi, 
makin batuklah 
gegara kepedesan. 

Pipi merona, 
bibir mendower. 

Suara 
sampe ilang setengah. 

🌶️ 🌶️ 🌶️

Ini bukan kali pertama
aku makan samyang.

Terakhir aku makan samyang itu, 
kira-kira sekitar 4 tahun yang lalu. 

Seingatku, 
pertama kali makan samyang, 
rasanya ga sampai sepedas ini. 

Tapi kenapa, 
sekarang aku ga kuat?

🌶️ 🌶️ 🌶️

Ini..

Apa skill makan pedesku 
yang terdegradasi 
lantaran faktor U, 

atau..

samyang-nya 
yang diam-diam 
ningkatin kualitas cabenya? 

🌶️ 🌶️ 🌶️

The Illusion of Neat Notes

Back in school, I always took super tidy notes that they just looked like a textbook. But here's the kicker: I wasn't the one flipping through those notes the most; it was my classmate. 

till one day before exam, my super neat, lovely notes
till one day before exam, my super neat, lovely notes

Back then, I used to think that keeping my notes that way would guarantee my success in school, like, earning teacher's approval. 

I remember that some of them would say something like this: "Make sure your handwriting is neat, or I won't give your assignment a score". 

Not only the teacher, I myself do like the concept of neat handwriting too. So I was enjoy doing it all, creating those notes as neatly as possible. 

But now I realized. What's the point of that? In fact, the reality is, it didn't really help me soak up all the knowledge I should've been getting during my school days. 

I've been burning through time, energy, and focus just to make these neat notes, and when it's time to actually study, I'm already drained. Trying to make my notes look super neat only made me miss out on the actual learning process. 

Now, all I've got left are only "textbook" notes feel, which I don't even know their whereabouts now. Well, they're probably serving as someone's bungkus gorengan by now.. 

at least they're useful for someone

..or not. 

I agree that neat notes might be useful, if the content is something we'll need for life. However, as long as I can read and understand them, it no longer matters to me if they're neat or not. 

After all, the main purpose of taking notes is to remind us of what we've learned, not to be admired like a piece of art. 

Besides, these days, getting the information we need is super easy, unlike back in the day when information was so valuable that we had to keep detailed records in neat way. 

However, when it comes to documenting something entirely new that no one has discovered before, then accuracy and detail, even neatness will become crucial. There's no doubt for it. 


If only I naturally had a neat handwriting, it wouldn't be an issue. But the reality is.. I don't, and I can't keep up with it anymore. 

Instead, I'd rather have slightly messy notes and focus on what's really important: learning the material and becoming truly knowledgeable.