Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label learning. Tampilkan semua postingan

Pembelajar Polos

Selama di perpus tadi, 

rasanya seperti duduk berhadapan 
dengan diriku 10 tahun yang lalu.

Persiiiis sekali.

Tangannya tak henti menulis catatan. 
Penuh semangat, 

penuh penekanan.

Rapi.
Linear.

Kulirik salah satu lembar catatannya,
tertulis judul: 

Mikroorganisme

Ah.. 

sepertinya dia siswi sma,
atau mahasiswi biologi / sejenisnya.

Tapi dilihat dari wajah dan perangainya, 

kelihatannya sih..
lebih seperti masih anak sekolah. 

Rasanya miris campur sedih.

Yang bikin sedih..
adalah fakta, 

bahwa dia berusaha, 
dengan semangat yang keren, 

yang sayangnya semangatnya itu 
diiringi dengan cara belajar dan mencatat

yang tidak akan membawanya benar-benar memahami materinya.

yang bikin miris.. 
dia semangatnya menggebu-gebu, 

yang sayangnya juga menaruh spirit penuh 

terhadap caranya tersebut.

...

Dek..

Semoga semangatnya tetap terus menggelora,
meski jika suatu saat nanti tersadar,

bahwa semua usaha belajar yang dilakukan sebelumnya 
telah menguap dan menggerus 

menjadi ketiadaan.

Keuntungan Gagal

Ada satu hal yang ga didapat siswa dengan track record tanpa gagal yang langsung lulus dalam sekali percobaan ujian, yang mana hanya didapat siswa dengan track record gagal bertubi-tubi sebelum pada akhirnya lulus: perhatian lebih dari pendidiknya secara eksklusif

Menjadi siswa cemerlang dengan nilai bagus tanpa gagal atas usahanya sendiri, memang keren. Tapi, menjadi siswa tersebut, berarti hanya sampai di situ saja dalam ruang lingkup kurikulum yang ditawarkan. 

Menjadi siswa tersebut, bersama dengan track record cemerlangnya, harus menempuh jalan sendiri untuk mengeksplor lebih jauh lagi di luar yang ditawarkan, tanpa bimbingan eksklusif dari pendidiknya, yang, pun kalaupun ada, tidak seeksklusif yang diberikan kepada siswa dengan track record gagal bertubi-tubi. 

Sebaliknya, menjadi siswa yang sering berlumur kegagalan, memang terlihat kurang keren. Tapi, menjadi siswa tersebut, berarti mendapat perhatian dan bimbingan khusus dari pendidiknya secara eksklusif. 

Menjadi siswa yang demikian, berarti mendapat fasilitas belajar dan bimbingan yang lebih dari yang ditawarkan, bahkan boleh jadi lebih dari biaya pendidikan yang sudah dibayar siswa yang bersangkutan. Dan artinya apa, siswa dengan track record gagal, sebenarnya untung, lebih untung dari siswa cemerlang. Lebih untung dalam konteks pengalaman belajar yang intensif. 

Tapi tenang, wahai para siswa cemerlang. 

Ada yang lebih rugi dibandingkan kalian. Yakni, siswa cemerlang yang mendapat nilai bagus tanpa usaha sendiri, melainkan melalui jalur instan yang meruntuhkan proses belajar itu sendiri. Sudahlah tidak belajar, tidak mendapat perhatian lebih dari pendidik pula. Sebab apa? Sebab nilainya sudah bagus sehingga dianggap ga perlu bimbingan lebih lagi. 

Kurang rugi apa mereka?

Berhasil

Satu bulan lalu, 
aku kewalahan.

Kewalahan, 
lantaran

harus mempelajari hal kompleks yang belum pernah kukenal, 
dan diharapkan untuk bisa 

hanya dalam waktu satu bulan. 

Proses belajarku saat itu,
dibersamai beragam perasaan.

Tertekan. 

Resah.

Cemas.

Insecure.
(yang mana mayoritas dikarenakan ini)

***

Sekarang, 

rasanya ingin sekali kuberlari 
memeluk diriku di satu bulan lalu.

Memeluk diriku
di saat sedang cengeng-cengengnya. 

Memeluknya,
sembari membisikkan kabar gembira. 

Selamat, 

aku berhasil. 

Binder Kompas

Aku punya binder. 

Isinya corat-coret brainstorm 
hasil eksplorasi minat 

untuk masa depan. 

Itu kutulis 
di tempo waktu yang lalu. 

Isinya.. 

Masih random. 
Masih luas. 

Masih belum terarah. 

Masih.. 
raw.

Meski memang, 

di dalamnya 
ada jiwa, 

banyak di antaranya, 

yang sudah tidak relevan, 
dengan keinginan sekarang. 

***

Tapi kini, 
kompas yang lebih presisi

sudah ditemukan. 

Intimidasi Buku

Baca buku di tengah gempuran shorts dan reels itutu gimana ya, berasa terintimidasi banget.

Ngeliatnya aja, udah langsung bertanya-tanya. Bakal lama banget ga sih ini nyelesaiinnya. Emangnya waktu ada banyak?

Emang sih, manfaatnya jauh beda sama nonton reels. Tapi, ya itu. Intimidasinya itu.

Yang ngebikin intimidasi itu, salah satunya buatku itu perasaan ketidaktahuan kapan buku itu bakal selesai. Berapa lama tepatnya per chapter nya selesai.

Jadi, harus bikin eksperimen nih. Berapa sih tepatnya banyak halaman yang berhasil kuhabiskan dalam kurun waktu tertentu?

Terus, bandingin sama kegelisahan sebelumnya. Kasih kesimpulan, kalau ternyata, baca buku itutu ga seintimidasi dan selama itu kok.

Apalagi kalau udah berhasil hanyut di dalam bukunya. Cukup luangkan waktu aja selama ... menit, nanti juga berhasil kebaca dan selesai juga bukunya.

10 menit pertama, dapat 3 halaman.

10 menit kedua, 4 halaman.

Baca Loncat

Kalau lagi coba baca buku teks buat belajar, aku lebih suka pakai metode loncat-loncat. Kalau mau berurutan dari awal banget, seringkali itu ga efektif buatku.

Pun, kalau mau berurutan banget, itu biasanya untuk subtopik tertentu.

Karena, buku itu ibarat kumpulan, kompilasi artikel mini yang biasa kita temui di internet. Dan artikel-artikel mini itu disusun jadi satu kesatuan menjadi sebuah buku, sesuai dengan apa yang dipercaya penyusunnya paling efektif urutannya.

Lagian, kita dengan yang nyusun buku itu kan pasti ga akan selalu sama pemikirannya (bahkan antara si penyusun dengan si penyusun itu sendiri di dua waktu yang berbeda).

Tapi bukan berarti baca berurutan jadi ga berguna. Berguna. Metode baca runut, paling cocoknya buat baca bacaan fiksi, novel, komik, dan sejenisnya. Biar ga kena spoiler. 

Kecuali yang seneng spoiler.

The Illusion of Neat Notes

Back in school, I always took super tidy notes that they just looked like a textbook. But here's the kicker: I wasn't the one flipping through those notes the most; it was my classmate. 

till one day before exam, my super neat, lovely notes
till one day before exam, my super neat, lovely notes

Back then, I used to think that keeping my notes that way would guarantee my success in school, like, earning teacher's approval. 

I remember that some of them would say something like this: "Make sure your handwriting is neat, or I won't give your assignment a score". 

Not only the teacher, I myself do like the concept of neat handwriting too. So I was enjoy doing it all, creating those notes as neatly as possible. 

But now I realized. What's the point of that? In fact, the reality is, it didn't really help me soak up all the knowledge I should've been getting during my school days. 

I've been burning through time, energy, and focus just to make these neat notes, and when it's time to actually study, I'm already drained. Trying to make my notes look super neat only made me miss out on the actual learning process. 

Now, all I've got left are only "textbook" notes feel, which I don't even know their whereabouts now. Well, they're probably serving as someone's bungkus gorengan by now.. 

at least they're useful for someone

..or not. 

I agree that neat notes might be useful, if the content is something we'll need for life. However, as long as I can read and understand them, it no longer matters to me if they're neat or not. 

After all, the main purpose of taking notes is to remind us of what we've learned, not to be admired like a piece of art. 

Besides, these days, getting the information we need is super easy, unlike back in the day when information was so valuable that we had to keep detailed records in neat way. 

However, when it comes to documenting something entirely new that no one has discovered before, then accuracy and detail, even neatness will become crucial. There's no doubt for it. 


If only I naturally had a neat handwriting, it wouldn't be an issue. But the reality is.. I don't, and I can't keep up with it anymore. 

Instead, I'd rather have slightly messy notes and focus on what's really important: learning the material and becoming truly knowledgeable.