Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label out of the blue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label out of the blue. Tampilkan semua postingan

Kepo Kopi

Ada yang kepo sama kopi: dek cicak.

Panik ia, berusaha keluar, tapi tak kunjung berhasil.

Untung kopi di gelas sisa sikit. Jadi tak tenggelam.

Kupindah gelas ke wastafel, buang air kopi dari gelas, sambil memastikan si adek ga ikut kecemplung ke lubang wastafel.

Dan voila.

Berakhir ia di punggung tangan. Meloncat mandiri dari gelas. 

Terdiam ia. Mungkin syok gara-gara sempat terjebak di gelas.

Hening.

Hening.

Menarik untuk terus ikut hening. Tapi saatnya kembali ke dinding dek. Saling mengucap sayonara.

Dan kembali melanjutkan hidup masing-masing.

Rabun Kaget

Perkenalkan.

Ini penutup mata baruku, 
bersama gelnya.

Baru kudapatkan
sekitar satu minggu lalu, 

dan baru kucoba 
pas tidur siang barusan.

Memang berat dan ketat, 
tapi rasanya enak. 

Gelap.
Dingin.

TAPI!!!

Bangun-bangun 
mataku jadi langsung rabun banget!!

***

Horor.

Bahkan tulisan di layar hp pun, 
sama sekali ga bisa kubaca, 
pas perdana baru bangun tadi. 

Syukurnya, 
lama-kelamaan rabunnya memudar. 

Dan syukurnya juga, 
aku udah mulai bisa baca lagi, 
dan ngetik di sini. 

Tapi rabunnya belum hilang 100%.

Baca tulisan di kertas biasa pun
masih nge-blur juga.

***

Jadi rabun kagetnya itu gini. 

Bangun-bangun, 
mataku ga bisa baca tulisan apapun, 
baik dekat, maupun jauh.

Mataku minus. 

Walau udah coba pakai kacamata tadi,
tulisannya tetap rabun!

Perlahan, memang 
tulisan mulai bisa kebaca.

Tapi kalau berkedip lagi, 
semua langsung buyar dan tambah blur. 

Rasanya mau nangis.

Gimana kalau seandainya 
aku ga bisa baca lagi selamanya?

Kiamat.

***

Aku belum tau, 
sampai kapan mataku pulih lagi. 

Masih observasi mandiri.

Sekaligus jadi parno.
Buat pakai lagi penutup matanya.

Mungkin masalahnya ada di gel, 
jadi memberatkan mata.

Aku belum tau. 

***

UPDATE:

Sekitar 5 jam setelahnya, akhirnya mataku normal lagi. 

Duh. Ga lagi. 

(tapi nanti tetap mau coba penutup matanya tanpa pakai gel)

Lemper 15 Hari

Lemper,
kalau mendem di tas, 
dalam suhu ruangan, 
selama 15 hari berturut-turut, 
bakal jadi apa?

Busuk.

disertai, kloningan-kloningan dua orang ini








Tas itu,
kugantung di dinding kamar.

Dan,

sudah dua hari, 
terendus aroma aneh
di dalam kamarku. 

Yang artinya, 
di hari ke-13, 
kloningan sudah mulai terproduksi.

Untungnya,
ketahuan juga.

Kalau tidak, 
kloningan akan semakin banyak,
dan banyak, 
dan banyak, 
dan banyak. 

Berjalan, 
merayap,
di sepenjuru lantai, 
dinding, 
dan langit-langit. 

***

Pelajarannya:
Periksa isi tas sebelum disimpan.

Ngefans

Di ruang kelas itu, 
tepatnya di depan pintu, 
seseorang menanyakan namaku, 

juga, 

menanyakan 
yang kupikirkan. 

Sayang,
waktu
sepertinya sempit
baginya. 

Tergesa, 
ia sodorkan pertanyaan 
(serupa seperti ini): 

"Termotivasi dari gurunya ya?"
"(dalam hati: eh?) i-iya"

"Siapa nama gurunya?"
"(sebut nama)"

"(berterima kasih, lalu pergi)"

***

Beberapa hari setelahnya, 
di sebuah bagian media lokal, 
tercetak foto bersama, 
di mana aku, 
berdiri di paling pojok. 

Terlihat bagus. 

Tapi sayang, 
di bagian surat kabar itu, 
potongan kalimat berikut turut menyertai 
(yang serupa seperti ini): 

Dina, salah seorang murid di xxxx,
mengaku kagum dengan gurunya, xxxx. 
"iya, ngefans dengan xxxx", ungkapnya.

***

 A captured memory, 
on year 200X 

Tersiram

Ketika tidak sengaja menyiram orang saat menyiram tanaman, lantaran tidak menyadari keberadaan orang tersebut, bagaimana perasaan yang tidak sengaja menyiram?

Lalu, bagaimana dengan perasaan orang yang tersiram?

***

Aku, sebagai yang tersiram, (awalnya) merasa malu. 

Tapi, setelah mereka-reka ulang lagi, aku sadar, tidak seharusnya aku malu. 

Lantas, kenapa tadinya aku malu?

Selain karena badan (dan buku tulisku) terguyur air, aku malu, karena merasa sudah salah tempat. Aku merasa, aku yang salah karena ada di tempat itu, pada waktu itu. Jadi aku spontan berpikir, kalau aku yang seharusnya malu. 

Padahal, setelah dipikirkan lagi, aku jelas tidak salah. Itu tempat umum, bukan rumah penduduk. 

Aku tidak salah duduk di situ, pada waktu itu. 

Aku tidak jadi merasa malu. 

***

Tapi, bagaimana dengan yang tidak sengaja menyiramku? Apakah saat itu dia juga merasa malu?

Tentu. 

Meski berusaha keras menyembunyikannya, jelas sekali dia terlihat malu. Tepat setelah menyadari keberadaanku di titik penyiraman, dia kaget, dan segera minta maaf sambil berkali-kali tertawa canggung. 

Yang tidak sengaja menyiram, sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena dia memang tidak melihatku. Tapi juga salah, sebab dia kurang memperhatikan sebelum menyiram, padahal itu tempat umum, yang sangat mungkin akan ada kehadiran orang lain di situ, saat itu. 

Baik. Permintaan maaf diterima.  

Sayangnya, permintaan maaf itu dilapisi oleh pembelaan diri berjubah basa-basi, yang dipakai demi melindungi diri dari dinginnya hawa malu. 

Oke. Kuakui itu jubah perlindungan yang apik. Kalau kugambarkan, kira-kira ada dua lapis kain di jubahnya:

1. basa-basi yang menyiratkan bahwa aku yang salah karena tidak bilang padanya kalau aku sedang duduk di situ, 

2. basa-basi yang menyiratkan bahwa aku yang salah karena duduk di situ pada waktu itu. 

***

Di dunia ini, masih banyak ditemui orang yang memilih menggunakan jubah ini untuk melindungi diri. 

Dinginnya hawa malu memang tak terelakkan. Perasaan takut disalahkan memang tidak nyaman. Tidak heran jika banyak yang memilih menggunakannya saat hawa itu mulai menerpa. 

Padahal, dinginnya hawa malu itu juga bisa digantikan oleh hangatnya rangkulan sesama manusia, yang dapat diwujudkan dengan keberanian untuk mengakui kesalahan dengan tulus. 

Dengan berani melepaskan jubah defensif, memeluk perasaan malu, dan mengakui bahwa kita juga bisa berbuat salah, kita memberi kesempatan bagi diri kita untuk bertumbuh, membangun kehangatan dan saling pengertian, serta menciptakan kedekatan yang lebih tulus dengan sesama, 

yang, tentu, lebih hangat, 

alih-alih berlindung di balik jubah. 

Tercongkel Kucing

"Awww :3"

Reaksi demikian 

boleh jadi muncul, 
setiap video perkucingan diputar. 

Termasuk, 

video mereka.. 
..tertidur di laptop. 

***

Tidak heran.
Tempat hangat, juga sempit, 
selalu jadi tempat favorit bagi para kucing, 

dan, 

laptop menyala, 
apalagi dengan layar agak tertutup,
memang mewakili kriteria itu. 

Oke.

Melihat mereka mendengkur, 
rebahan di atas laptop, 
memang menggemaskan. 

Kucing tidur di laptop
Siapa yang tidak luluh melihatnya? | sumber gambar: meowingtons.com

Tapi!!

Berhati-hatilah 
dari segala keimutan itu.

Ketika mereka mulai beraksi, 
berjalan, 
mendekati kita di depan laptop 
dengan wajah tanpa dosanya, 

maka, 

waspadalah

Satu menit pun, 
tidak, 
satu detik pun, 
jangan sampai tindakan mereka, 

luput dari pengawasan kita. 

Sekalinya luput, 
bersiaplah. 

Ketika melihat kembali 
ke arah keyboard laptop, 
maka, 
yang (sangat) mungkin terjadi adalah, 
satu-dua-tiga-.... tombol 
beserta komponen di dalamnya,  

akan hilang dari peredaran.

Atau
dengan kata lain, 

tercongkel

Ya, tercongkel seperti ini | sumber gambar: x.com

Ingat kebiasaan kucing mengasah kuku?
Itu yang terjadi. 

Bagaimana aku bisa tahu?
Kepergok. 

Awalnya, 
tepat setelah aku menyadari

bahwa, 

beberapa tombol keyboard laptopku sudah tercongkel, 
dan mencar kemana-mana, 
aku hanya bisa berspekulasi, 
kalau itu ulah kucing. 

Aku, 
waktu itu 
belum punya bukti nyata. 

TAPI. 

Untuk kedua kalinya, 
setelah aku pergi meninggalkan laptopku sebentar dalam keadaan menyala dan layar terbuka,  

ketika kembali lagi, 

aku memergoki seekor kucing 
tengah mengasah kuku-kukunya, 
di atas keyboard laptopku. 

Dan, ya, 
korban tombol keyboard laptopku pun, 
akhirnya bertambah lagi. 

***

Jadi, 
apa yang bisa dipetik dari sini?

  1. Jangan tinggalkan laptop dalam keadaan menyala dan layar terbuka, jika keberadaan kucing terdeteksi di lingkungan sekitar, 
  2. jauhkan laptop dari jangkauan kucing, dan 
  3. tetap selalu sayangi kucing, kapanpun, dimanapun. 

Langsung Pakai Saja

Dengan jilbab bergo di kepala, 
dandanan sendiri ala kadarnya di muka, 
kaos di atas, 
celana training di bawah, 

serta..
..heels di kaki,

aku berlari, 
menerobos kerumunan orang, 
menuju ruang ganti. 

Membawa tas berisi kebaya dan kain, 
serta sebuah hanger
yang menggantung sebuah jubah, 
berkibar ikut terbawa angin. 

Belum sampai di titik tujuan, 
seorang bapak ber-nametag mencegat. 

"Mau kemana?
Langsung pakai saja toganya.
Acara sudah dimulai."

 A captured moment, 
on 07/11/2023