Lagi baca buku diari Anne Frank. Seiring membalik halaman-halamannya yang kian lama makin gelap, di pertengahan baca, tetiba tergelitik lihat isi diari sendiri.
Kulihat.
Tanggal terakhir yang kuisi di diari itu, tercatat tanggal 1 Juli 2025. Setelahnya, kosong, hanya tersisa kurang dari 1/4 lembar bagian buku. 1/8, kira-kira.
Rasanya tertarik untuk dilanjut. Tapi berhubung sudah berganti tahun, kupikir baiknya lanjut di buku baru dan fresh.
...
Diari.. ya..
Diari itu, dibanding dengan foto ataupun video, ternyata ga kalah nendang selaku rekam jejak memori.
Siapa yang membersamai, apa yang dipikirkan, tempat apa yang dilalui, apa yang dilakukan, apa yang dicapai, apa yang disuka, apa yang tidak disuka, dan hal-hal lainnya yang tercatat per tanggalnya, menjadi mengalir lagi ke masa ini.
Sehingga, siapa yang masih membersamai, pun yang sudah tidak membersamai, begitupula dengan hal yang belum tercapai, menjadi ternoticed dengan jelas.
Juga, apa yang pernah dipikirkan, menjadi terpikirkan kembali. Yang masih relevan dengan keadaan sekarang tapi sempat terlupakan, menjadi hidup kembali.
...
Selain itu..
hidup ini sendiri juga berharga,
begitupula siapa dan bagaimana setiap dari kita
di setiap hari-hari kita.
Sangat disayangkan bila tidak terdokumentasi.
Sebab pikiran dan perasaan,
adalah aset berharga,
dari seorang manusia.