Tergelitik.
Seorang bunda dari seorang buah hati ciliknya yang masih SD bilang, it's ok ga suka sesuatu.
Contohnya, it's ok ga suka belajar matematika. It's ok kalau yang disukanya hanya pelajaran bahasa inggris, misalkan.
Terus, aku masih penasaran, apa it's ok juga kalau ga suka agamanya sendiri?
Hayolo.
Apakah sang bunda masih it's ok juga, kalau anaknya lebih suka agama lain ketimbang agama yang dianutnya sendiri?
Isoke?
***
Kalau yang ingin selalu kupegang dan percaya, tidak ada satupun ilmu yang semestinya ditakuti, dihindari, atau bahkan tidak disukai, karena semuanya "cantik" (dalam konteks ilmu dan pemahaman pengetahuan).
Semua cantik, dengan caranya masing-masing (meski, memang, ada bagian yang bikin hmm juga dari masing-masingnya). Begitupun dengan agama.
Barulah untuk urusan memilih mana-mana saja yang mau ditekuni sampai mungkin hingga tutup usia, itu baru lain cerita.
***
Btw.
Bahkan tai pun juga "cantik"?
Bahkan tai pun juga "cantik".
Bayangin.
Kalau di mindset nya itu tiap ada yang nyebut tai harus langsung pasang bendera ga suka,
maka bukan tidak mungkin sampai kapanpun sang entitas pemilik mindset itu tidak akan pernah mencoba benar-benar mengenali tai,
selamanya.
***
Oke. Tai cantik.
Termasuk hal paling gelap sekalipun?
termasuk hal paling gelap sekalipun.
***
Simpulannya?
Isoke baru layak disebut ketika pilihan untuk tidak menyukai sesuatu benar-benar lahir dari pemahaman, bukan sekedar dari prasangka atau penghindaran yang sudah ada sejak awal.
***
Eh? Apa?
Kamu ga suka "sesuatu"?
Ooh.
Tapi yakin udah beneran paham?
Seberapa jauh?
***
Eh? Apa?
Kamu memutuskan akan menekuni "sesuatu" dan bukan yang lain?
Ooh.
Kenapa?
Apa itu kebanyakan sekedar karena faktor pengaruh eksternal semacam stigma oleh lingkungan (misalnya, karena lingkungan menganggap bidang itu keren, maka kamu jadi tertarik dengan itu) yang mana kamu sendiri tidak menjadi yakin lagi dengannya jika stigma itu berubah,
atau,
keputusan itu benar-benar datang dari dirimu sendiri?
Seberapa jauh?
Dan seberapa jauh kamu akan tetap menekuni itu meski stigma lingkungan berubah sekalipun?